Parent Stories Parental Control

Membuat Portfolio Tontonan Anak sebagai Filter Konten di Youtube

Perjalanan panjang buat kami dalam menyiapkan anak menghadapi era digital, lha tidak siap bagaimana jika anaknya memang lahir di era digital.. Ada prinsip dan strategi yang bisa diterapkan dalam memonitor eksplorasi yang dilakukan anak-anak di Youtube. Salah satunya adalah proteksi konten di belakang layar (tanpa disadari anak).. Hal ini bisa dilakukan dengan setelan Restricted Mode dan membangun portfolio History daftar tontonan anak. Restricted Mode adalah filter konten ramah anak dari sistem Youtube itu sendiri. Filter konten dengan membangun portfolio Histori dilakukan untuk bisa dapat rekomendasi video dari Youtube yang konsisten dengan daftar video dalam History tersebut.. Hal inilah seperti yang akan dijelaskan lebih jauh pada artikel ini.

Jika masih bingung dengan apa itu History? Iya ya, apa ya bahasa Indonesianya? 

Ini tampilan Menu dan Halaman History kalau kita akses Youtube via browser di laptop..

Screen Shot 2017-09-22 at 12.37.42 PM|screen-shot-2017-09-22-at-12-44-18-pm.png

Nah ini tampilan Menu dan Halaman History jika diakses via mobile apps di HP

IMG_4382.PNG | IMG_4383.PNG

Sistem Youtube menghasilkan rekomendasi video menggunakan konsep yang namanya machine learning.. Salah satu cara kerjanya adalah menggunakan data video apa saja yang suka kita lihat untuk kemudian dicarikan rekomendasi video yang mirip-mirip atau terkait.. Machine learning sekarang ini udah powerful.. Tidak hanya pakai data si penonton, tapi juga ribuan bahkan puluhan ribu penonton lain dengan pola kesukaan yang mirip (tapi tidak sama).. Ini yang sering kita dengar dengan nama Big Data.. Jadilah rekomendasi video yang kita tonton sesuai sekali kan.. Namun, untuk anak, sesuai pola bukan berarti aman 🙂

Nah sebenarnya kita sebagai penonton individu bisa tidak kalah dengan kuasa sistem Youtube yang pakai Big Data.. Kita bisa membangun apa yang disebut dengan portfolio History tontonan/video.. Sehingga ketika Youtube mengolah data tersebut, maka akan lebih tepat dengan apa yang kita inginkan..

Bingung? Roaming istilah?

Begini simulasinya..

Jika History (catatan video apa saja yang sudah kita tonton maupun kata kunci Search) itu rapi, tidak terkontaminasi dengan video gak jelas hasil nonton berita, buka link dari Facebook, share-share an whatsapp, maka hasil rekomendasinya bisa lebih sesuai.. Oleh karena itu, saya selalu pakai non-account (incognito) ketika buka Youtube semisal mau lihat-lihat Isyana teh yg mana orangnya, Raisa lagunya yg mana, atau Goblin itu trailer nya gimana (eh).. Hal ini dimaksudkan agar History tontonan di Youtube bersih hanya berisi daftar video yang sudah ditonton anak saya..

Cukup? Oh tidak..

Beberapa hari sekali saya cek semua History tontonan anak. Jika ada Channel yang cenderung kelak bisa memberikan rekomendasi video yang belum tepat untuk umurnya dia, maka saya hapus.. Video aman, belum tentu Channel sumber video itu juga aman.. Contoh: bocah nonton tutorial bikin slime dari seorang remaja.. aman? oh aman.. Tapi yang namanya endorser kan gak berenti sampe bikin slime doang, ya kadang jualan barang lain, ya kadang ngebanyol pakai istilah-istilah khas remaja.. Panik dong emak-emak pas anaknya denger kata ‘mantan’ dan menanyakan artinya..

Nah itu tadi penjelasan cara mengelola portfolio History Youtube..

Cukup? belum sodara-sodara.. Susah bener kan hidup kalo ngasih gadget ke anak.. hahahaha..

Ketika masuk ke Youtube pertama kali yang muncul adalah halaman Home ya.. Di sana ada berbagai rekomendasi video kan? Nah ini yang potensial bahaya.. Maka, saya juga beberapa hari sekali memonitor dan hapus untuk rekomendasi yang belum relevan.. Halaman Home yang mana yak?

IMG_4384.PNG
Ini yang namanya halaman Home (diakses dari mobile apps Youtube di iPhone)

Terus? Kita hapus Channel yang menurut kita tidak sesuai..

Jadi, rekomendasi yang ada di halaman Home merupakan perwakilan per-Channel yang kita Subsribe – langganan. Ini mengapa saya gak pernah iyakan bocah kalau mau Subscribe sesuatu karena disuruh mba-mba di videonya.. Subscribe hanya jika seluruh isi videonya udah Mamah-Proof (alias udah ditonton semua oleh saya dan dinyatakan aman.. Rekomendasi bisa juga berasal dari Channel video yang sering ditonton..

Cara hapus Channel yang tidak sesuai dengan kita adalah klik menu di kanan atas video bersangkutan, dan pilih “Not Interested”.. Kemudian akan ada notifikasi “Video removed”..

IMG_4385.PNG  IMG_4386.PNG

Selesai? Beluuum..

Setelah dihapus, sebenarnya pada Youtube yang diakses via mobile apps di Android maupun iPhone ada fitur tambahan: yaitu survey Tell Us Why, kenapa kita hapus suatu video yang Youtube rekomendasikan.. Nah di sini kita bisa sesuaikan alasannya.. Nah supaya suatu channel tidak pernah ditawarin lagi ke kita, bisa pilih “I’m not interested”.. Kalau gak suka sama jenis video tertentu maka pilih “I don’t like the video”.. Kalau bosen itu lagi itu lagi, maka pilih “I’ve already watch”..

Kemudian akan ada notifikasi: “Got it.. We’ll tune…… “.. Nah ini artinya Youtube akan lebih menyesuaikan rekomendasi dengan arahan/preferensi kita..

IMG_4387.PNG IMG_4388.PNG

Selesai?? Beluuum.. Hah? Seriusan belum?
Hehe ini FYI aja.. Hidup aman tentram jika channel yang kurang cocok dihapus? belum tentu, karena rekomendasi Channel jenis lain juga akan muncul.. kadang ya sesuai.. kadang ya absurd karena belum sempat didefinisikan orang tuanya apakah masuk golongan aman atau enggak.. Misalnya kita ngehapus channel tutorial slime dan squishy, eh trus dapet rekomendasi tips sulap anak-anak.. Bingung kan..

Panjaaaang yaa.. Ya mudah-mudahan bisa bermanfaat dalam hal proteksi ke anak dan mengajarkan anak untuk digitally literate 🙂

Salam hangat

~ Mamanya Runni dan Kala

Sumber gambar: https://huge-it.com/portfolio-gallery/
#ODOPfor99days
#Day8

Wife of great @fajrinrasyid | A lifelong learning woman | With an idealism of how survive a life | With a belief that everything's gonna be okay in the end :)

0 comments on “Membuat Portfolio Tontonan Anak sebagai Filter Konten di Youtube

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: